Langsung ke konten utama

Pengertian Akhlak dan Faktor-Faktor yang Berpengaruh dalam Pertumbuhan Akhlak

 Pengertian Akhlak dan Faktor-Faktor yang Berpengaruh dalam Pertumbuhan Akhlak

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

            Sebagai umat manusia, kita harus senantiasa taat dalam  menjalankan perintah agama, yaitu dengan  menjalankan segala perintah Allah SWT serta meninggalkan semua apa-apa yang dilarang olehNya. Pada saat ini, mungkin banyak diantara kita yang masih kurang dalam memperhatikan dan  mempelajari akhlak. Perlu diingatkan bahwa Tauhid adalah sebagai inti dari ajaran Islam yang memang seharusnya kita utamakan, disamping mempelajari akhlak. Karena Tauhid merupakan realisasi akhlak seorang hamba terhadap Allah SWT, seseorang yang bertauhid dan baik akhlaknya berarti ia adalah sebaik-baiknya manusia.

Pada penerapannya dilapangan, usaha-usaha pembinaan  akhlak melalui berbagai lembaga pendidikan dan melalui berbagai macam  metode terus dikembangkan. Ini menunjukkan bahwa akhlak perlu dibina. Dari pembinaan tersebut akan  terbentuklah individu-individu muslim yang berakhlak mulia, taat kepada Allah SWT dan RasulNya, hormat kepada ibu bapaknya, dan memiliki rasa kasih sayang terhadap sesama makhluk ciptaan Allah SWT.

B. Rumusan Masalah

1.      Apakah pengertian dari akhlak?

2.      Apasajakah faktor-faktor yang mempengaruhi proses pertumbuhan akhlak?

C. Tujuan Penulisan

1.      Agar mengetahui apa itu pengertian dari akhlak,

2.      Agar dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi proses dari pertumbuhan akhlak.

D. Manfaat Penulisan

Yaitu dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran dan sumber referensi dalam mencari dan  menggali ilmu mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak.

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Pengertian Akhlak

            Ilmu akhlak sering juga disebut etika, sehingga ada yang mengatakan bahwa akhlak adalah etika Islam. Dalam bahasa Indonesia, etika berasal dari bahasa Inggris, ethics, yang asalnya adalah dari bahasa Yunanikuno, ethikos, yang berarti “timbul dari kebiasaan”. Etika sendiri,menurut Wikipedia, merupakan cabang ilmu filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan  penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah , baik, buruk, dan  tanggung  jawab.[1]

            Akhlak adalah institusi yang bersemayam dihati tempat munculnya tindakan-tindakan sukarela, tindakan yang benar ataupun tindakan yang  salah. Menurut tabi’atnya, institusi tersebut dibina untuk memilih keutamaan, kebenaran, cinta kebaikan, cinta keindahan, dan benci keburukan, maka dari itulah perbuatan baik muncul daripadanya dengan  mudah. Itulah akhlak yang baik, misalnya akhlak  lemah lembut, akhlak sabar, akhlak berani, akhlak adil, akhlak berbuat baik, dan  lain sebagainya dari akhlak-akhlak yang baik, dan penyempurna diri. Akhlak adalah bentuk kejiwaan yang tertanam dalam diri manusiayang dapat menimbulkan perbuatan baik, buruk, terpuji, dan tercela [2]

            Sebaliknya, jika institusi tersebut disia-siakan, tidak dibina dengan pembinaan yang proporsional, bibit-bibit kebaikan  didalamnya tidak dikembangkan dan dibina dengan pembinaan yang buruk hingga keburukan menjadi sesuatu yang dicintainya, kebaikan menjadi sesuatu yang dibencinya, dan perbuatan serta perkataan buruk keluar daripadanya dengan mudah, maka dapat dikatakan bahwa itu merupakan akhlak yang buruk, misalnya berkhianat, bohong, keluh-kesah, rakus, kasar, dengki, berkata jorok, dan lain sebagainya.

            Oleh karena itu, Islam memuji akhlak yang baik, menyerukan kaum Muslimin membinanya, dan mengembangkannya di hati mereka. Islam menegaskan bahwa bukti keimanan ialah jiwa yang baik, dan bukti jiwa yang baik ialah akhlak yang baik.

 

 

Demikianlah dalam bingkai agama Islam, para ulama mendefinisikan akhlak atau moral sebagai suatu sifat yang tertanam dalam diri dengan kuat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah, tanpa diawali berpikir, merenung, dan memaksakan diri.

Jika dari sudut kebahasaan, akhlak bersal dari bahasa Arab, yaitu isim mashdar (bentuk infinitif) dari kata akhlaqa, yukhliku, ikhlaqan, sesuai dengan timbangan (wazan) tsulasi majid af’ala, yuf’ilu if’alan yang berarti al-sajiyah (perangai), ath-thabi’ah (kelakuan, tabi’at, watak dasar), al-‘adat ( kebiasaan, kelaziman), al-maru’ah (peradaban yang baik), dan al-din (agama).[3]

Para ahli bahasa mengartikan akhlak dengan istilah watak, tabi;at, kebiasaan, perangai dan aturan.[4] Sedangkan menurut para ahli ilmu akhlak, menyatakan akhlak adalah sesuatu keadaan jiwa seseorang yang menimbulkan terjadinya perbuatan-perbuatan seseorang dengan mudah. Dengan demikian, bilamana perbuatan, sikap dan pemikiran seseorang itu baik, niscaya jiwanya baik.

2.2 Aliran-Aliran Yang Membahas Mengenai Pembentukan Akhlak

Dalam menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan akhlak, terdapat tiga aliran yang sudah sangat dikenal yang menjelaskan mengenai hal-hal yang berpengaruh dalam pembentukan akhlak, diantaranya adalah aliran Navitisme, aliran Empirisme, dan aliran Konvergensi.

a        Aliran Navitisme

Menurut aliran navitisme ini, mengemukakan bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap pembentukan akhlak atau pembentukan diri seseorang adalah faktor pembawaaan dari dalam diri manusia yang bentuknya dapat berupa kecenderungan, bakat, akal, dan lain-lain. Jika seseorang telah memiliki pembawaan atau keenderungan kepada yang baik, maka dengan sendirinya orang tersebut akan menjadi pribadi yang baik.[5]

 

Aliran ini tampaknya begitu yakin terhadap potensi batin yang ada dalam diri manusia, dan aliran ini tak begitu memperhatikan dan memperhitungkan peranan pembinaan dan pendidikan. Manusia lahir kedunia ini memiliki kapasitas dan kualitas yang tidak sama.Seseorang yang lahir dari orangtua yang kuat, ia akan memiliki kekuatan yang kuat pula, begitupun sebaliknya.

Aliran ini lebih menonjolkan sifat bawaan yang dibawa oleh seseorang anak dan tampaknya kurang menghargai dan memperhitungkan peranan pembinaan, pendidikan, dan pengajaran serta lingkungan.

b        Aliran Empirisme

Menurut aliran Empirisme ini, memaparkan bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap pembentukan diri seseorang adalah faktor dari luar, yaitu lingkungan sosial, termasuk pembinaan dan pendidikan yang diberikan. Jika pendidikan dan pembinaan yang diberikan kepada anak itu baik, maka baiklah anaknya tersebut. Demikianlah pula sebaliknya. Aliran ini tampak begitu percaya peranan yang dilakukan oleh dunia pendidikan dan pengajaran.

Aliran empirisme ini bersebrangan dengan aliran nativisme, faktor yang paling dominan mempengaruhi seorang anak adalah faktor dari luar, yakni lingkungan sosial, pendidikan, dan pengajaran.

c         Aliran Konvergensi

Aliran konvergensi ini berpendapat bahwa pembentukan akhlak dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu pembawaan si anak, dan faktor dari luar yaitu pendidikan dan binaan yang dibuat secara khusus atau melalui interaksi dalam lingkungan sosial. Fitrah dan kecenderungan kearah yang baik yang ada didalam diri manusia dibina secara intensif melalui berbagi metode.

Inti dari aliran ini ialah membahas tentang penggabungan kedua aliran sebelumnya. Pembentukan akhlak seseorang dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal

 

 

 

 

 

Aliran yang ketiga ini, yaitu aliran konvergensi ini tampak sesuai dengan ajaran Islam, yaitu dapat dipahami daripada ayat Al-Qur’an dibawah ini.

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya : “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. (QS. An-Nahl : 78).

Ayat tersebut memberi petunjuk bahwa manusia memiliki potensi untuk dididik, yaitu penglihatan, pendengaran dan sanubari hati.potensi tersebut harus disyukuri dengan cara mengisinya dengan ajaran dan pendidikan.

2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak

            Faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak merupakan faktor yang penting yang berperan dalam menentukan baik dan buruknya tingkah laku seseorang.[6] Pembentukan akhlak adalah suaatu proses yang dilakukan terhadap fisik dan mental sehingga terbentukah pola penyesuaian diri yang khas pada setiap individu .

             Proses yang sangat relavan dalam pembentukan akhlak dibedakan menjadi 2, yaitu:

1.      Proses sosialisasi yang dikerjakan (tanpa sengaja) lewat proses interaksi sosial

Yaitu proses sosialisasi tanpa sengaja berupa menyaksikan tingkah laku orang-orang sekitar dan kemudian di internalisasikan dengan  norma-norma yang mendasarinya kedalam mentalnya.

2. Proses sosialisasi yang dikerjakan (secara sengaja) lewat proses pendidikan dan  pengajaran.

Yaitu adalah suatu proses sosialisasi yang disengaja mengikuti proses pengajaran dan pendidikan yang diajarkan disekolah-sekolah yang bisa dipahami oleh individu-individu dan bisa tertanam baik didalam dirinya.[7]

 

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak itu meliputi faktor internal (meliputi : insting, kehendak dan keturunan), dan faktor eksternal (meliputi : kebiasaan, keluarga, lingkungan, dan pendidikan).

a. Faktor Internal :

1). Faktor insting (naluri)

      Insting (naluri) adalah pola perilaku yang tidak diajarkan, dipelajari, melainkan telah ada sejak lahir dan juga muncul pada setiap individu makhluk hidup.[8] Insting atau naluri juga berfungsi sebagai motivator penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku.[9]

      Setiap perbuatan manusia lahir dari suatu kehendak yang diperagakan oleh naluri atau insting. Naluri merupakan tabi’at dari sejak lahir, naluri merupakan faktor pembawaan dari manusia.

2). Kehendak

Kehendak merupakan faktor yang menggerakkan  manusia untuk berbuat dengan sungguh-sungguh. Dalam perilaku manusia, kehendak ini merupakan kekuatan yang mendorong manusia untuk berakhlak. Kehendaklah yang mendorong manusia untuk berusaha dan bekerja, tanpa kehendak, semua ide, keyakinan, kepercayaan, pengetahuan menjadi pasif dan tidak ada arti bagi hidupnya.[10] Dari kehendak inilah menjelma menjadi niat yang baik dan yang buruk, sehingga perbuatan atau tingkah laku manusia menjadi baik dan buruk karena kehendaknya.

3). Keturunan

             Faktor keturunan dalam hal ini sangat mepengaruhi bentukan sikap dan tingkah laku seseorang. Sifat-sifat yang terterap pada anak merupakan sifat-sifat yang terterap pada orang tuanya. Sifat yang diturunkan orang tua terhadap anaknya itu bukanlah sifat yang tumbuh dengan matang karena pengaruh lingkungan ataupun adat dan pendidikan, melainkan sifat bawaan sejak lahir.

 

 

b. Faktor Eksternal :

                 1)  Kebiasaan

              Kebiasaan adalah setiap tindakan dan perbuatan  seseorang yang terus-menerus dilakukan secara berulang-ulang, sehingga perbuatan tersebut menjadi kebiasaan. Kebiasaan adalah perbuatan yang selalu diulang-ulang sehingga mudah untuk dikerjakan

                 2)  Faktor Lingkungan

              Manusia adalah  makhluk sosial, yaitu makhluk yang tidak bisa hidup sendiri melainkan membutuhkan orang lain untuk dapat hidup. Dari hal inilah sebab dari manusia harus bergaul dengan orang-orang lain. Oleh karena itu, dalam pergaulan  manusia akan saling memengaruhi dalam fikiran, sifat dan tingkah laku.[11]

                 3) Faktor Pendidikan

        Didalam dunia pendidikan, sangat besar sekali pengaruhnya terhadap perubahan perilaku dan akhlak seseorang. Berbagai ilmu diperkenalkan agar anak didik dapat memahaminya dan dapat melakukan suatu perubahan pada dirinya. Salah satu contohnya ialah mahasiswa yang diberi pelajaran mengenai “akhlak”, yang mana memberi tahu bagaimana seharusnya manusia itu bertingkah laku, bersikap terhadap sesamanya, dan berlaku terhadap penciptanya yaitu Allah SWT

        Dalam pendidikan, anak yang dididik akan diberikan  didikan  untuk menyalurkan dan mengembangkan bakat yang ada, serta membimbing dan  mengembangkan bakat tersebut, agar dapat bermanfaat pada dirinya dan bagi masyarakat. Pendidikan merupakan faktor yang memberikan pengaruh dalam pembentukan  akhlak. Pendidikan  turut mematangkan kepribadian manusia sehingga tingkah lakunya sesuai dengan pendidikan yang telah diterimanya.

                  

 

 

 

                                                                  BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

     Dari pemaparan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa akhlak adalah perilaku manusia yang dapat dibentuk dan dirubah untuk menjadi perilaku yang baik. Namun memerlukan waktu dan pembiasaan diri dalam proses tersebut. Disamping itu, dalam pembentukannya juga ada faktor-faktor yang memengaruhinya dalam perubahan akhlak atau perilaku seseorang.

     Beberapa faktor yang memengaruhi pembentukan menurut 3 aliran yangtelah dilemukakan oleh para ahli yaitu aliran Nativisme, aliran Empirisme, dan aliran Konvergensi. Aliran tersebut pun memiliki pandangan yang berbeda-beda, namun penulis berpendapat lebih condong kepada aliran Konvergensi yang pada dasarnya perubahan akhlak atau perilaku  seseorang tidak hanya adanya faktor yang ada pada dirinya sendiri melainkan juga adanya faktor dari luar dirinya.

     Kemudian adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak, yakni terbagi menjadi 2 bagian. Pertama ialah faktor internal yang meliputi insting/naluri, kehendak, dan keturunan. Kemudian yang kedua ialah faktor eksternal, meliputi kebiasaan, lingkungan, dan pendidikan.

3.2 Saran

     Demikian apa yang dapat penulis paparkan mengenai akhlak dan faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak, penulis harap, dengan membaca makalah ini para pembaca dapat memperluas wawasan tentang ilmu akhlak dan agar dapat dijadikan sebagai pembelajaran pada pembaca agar lebih berusaha menjadikan perilaku yang baik/akhlak yang baik dalam keseharian hidupnya.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

M.Imam Pamungkas, Akhlak Muslim Modern: Membangun Karakter Generasi Muda (Bandung : Marja,                                2012),

Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Minhaj al-Muslim, (Madinah : Dar Umar Ibn Khattab, 1976)

Nata Abuddin, Akhlak Tasawuf  (Jakarta : PT. Raja Gravindo Persada, 2006),

Amuniddin, Membangun Karakter Dan Kepribadian Melalui Pendidikan Agama Islam (Yogyakarta :                        Graha Ilmu, 2006),

Ali Mas’ud, Akhlak Tasawuf, ( Sidoarjo : CV. Dwiputra Pustaka Jaya, 2012) 

 J. Dwi Narwoko, Bagong Suyanto, Sosialisasi Teks Pengantar dan Terapan (Jakarta : Kencana, 2006),

A.Budiarjo, Kamus Psikologi,(Semarang : Dakara Prize, 1987),          

Zahruddin, Hasanuddin, Pengantar Studi Akhlak,(Jakarta : Grafindo Persada, 2004)

Rahmad Djatmika, Sistem Etika Islami,( Surabaya : Pustaka Islam, 1985),

Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1991),

 

 



[1] M.Imam Pamungkas, Akhlak Muslim Modern: Membangun Karakter Generasi Muda (Bandung : Marja, 2012), cet I hal.26

[2] Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Minhaj al-Muslim, (Madinah : Dar Umar Ibn Khattab, 1976),  hal.154

[3] Nata Abuddin, Akhlak Tasawuf (Jakarta : PT. Raja Gravindo Persada, 2006) hal.1

[4] Aminuddin, Membangun Karakter Dan Kepribadian Melalui Pendidikan Agama Islam (Yogyakarta :Graha Ilmu, 2006) hal.93

[5] Nata Abuddin, Akhlak Tasawuf (Jakarta : PT. Raja Gravindo Persada, 2006), hal.167

 

[6] Ali Mas’ud, Akhlak Tasawuf, ( Sidoarjo : CV. Dwiputra Pustaka Jaya, 2012), hal.39

[7] J. Dwi Narwoko, Bagong Suyanto, Sosialisasi Teks Pengantar dan Terapan (Jakarta : Kencana, 2006),hal.86

[8] A.Budiarjo, Kamus Psikologi,(Semarang : Dakara Prize, 1987), hal.208

[9] Zahruddin, Hasanuddin, Pengantar Studi Akhlak,(Jakarta : Grafindo Persada, 2004), hal.93

[10] Rahmad Djatmika, Sistem Etika Islami,( Surabaya : Pustaka Islam, 1985), hal.51

[11] Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1991), hal.175

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Model dan Rancangan Evaluasi Program Pendidikan

Model dan Rancangan Evaluasi Program Pendidikan MAKALAH EVALUASI PENDIDIKAN Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah   Evaluasi Pendidikan Mengenai Model dan   Rancangan Evaluasi Program Pendidikan       Dosen Pengampu: Anisya Septiana, M.Pd Oleh   :     Kelompok : III -           Dian Bastian     (18561004) -           Reci                    (18561013) -           SusanaAmelia (18561025)              PROGRAM STUDI   MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( I AIN) CURUP 20 20       KATA PENGANTAR   Assalamu’alaikum warohmatullahi wab...

MAKALAH MANAJEMEN PUSAT SUMBER BELAJAR. Manajemen Pusat Sumber Belajar Mengenai Pelayanan Media, Pengembangan Sistem Instruksional, dan Produksi Pengembangan Bahan

  MAKALAH MANAJEMEN PUSAT SUMBER BELAJAR Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah   Manajemen Pusat Sumber Belajar Mengenai Pelayanan Media, Pengembangan Sistem Instruksional, dan Produksi Pengembangan Bahan       Dosen Pengampu: Dr. Sumarto, M.Pd.I Oleh   :     Kelompok : V          -           Dian Bastian (18561004) -           Metia Ade Mentari (18561009) -       Resty Wahyuni (18561014)                PROGRAM STUDI   MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( I AIN) CURUP 20 20       KATA PENGANTAR   Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh Puja dan segala puji syukur kami panjatkan kepada Allah...

Manajemen Pembiayaan tanggapan mengenai pengelolaan keuangan negara ddalam dunia pendidikan

Manajemen Pembiayaan tanggapan mengenai pengelolaan keuangan negara dalam dunia pendidikan Nama                              : Dian Bastian NIM                                : 18561004 Prodi/Smt/Institusi          : Manajemen Pendidikan Islam/4/IAIN Curup MK                                  : Manajemen Pembiayaan Pendidikan                         Harus diingat! Bahwa keuangan yang dikelola adalah uang negara, bukan uang pribadi, maka pengelolaannya harus sesuai peraturan yang berlaku (standar tertentu). Tanggapan saya (Dian Bastian)           ...